Yang Terbaik

Aku baru menyadari setelah semua sudah terlambat

Aku merintih atas kebodohanku

Keegoanku yang tidak sanggup kumengerti

Hanya air mata yang setia menemani

Semalam air susu mendidih

Semalam juga telah dingin

Semalam harus kuminum dengan hidung tertutup

Semalam juga harus kumuntahkan kembali

Bersilat lidah dia pertahankan hatinya

Kebisuannya menjerumuskan aku lebih dalam ke jurang

Keingkarannya yang harus kutelan

Letupan emosi yang harus kuredam

Semua hanya untuk panggung sandiwara

Banci!

Pengecut!

Pendusta!

Penjilat kata dan simpati buaya

Itu semua pernah terlontar dari lidah dan hatiku

Apapun jalan cinta kita

Kita akhiri dengan maaf dan senyuman manis

Kita renungi semua dibalik makna

Dan kita yakini yang terbaik telah menanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s